Cara Menggunakan Storytelling

Cara Menggunakan Storytelling untuk Meningkatkan Hasil Content Marketing

Cara Menggunakan Storytelling – Bercerita atau storytelling dapat meningkatkan angka konversi hingga 30 persen. Di bawah ini kami telah tuliskan riset lebih detail kenapa storytelling adalah alat content marketing yang luar biasa efektif.

Pakar bahkan menyebutkan bahwa tanpa cerita, penjualan pun tidak akan mendatangi Anda. Hal ini terjadi karena audiens memikirkan value dan kisah di balik sebuah brand, produk, maupun jasa.

Oleh karena itu, sebagai pihak yang memasarkan produk dan jasa, Anda wajib menguasai teknik bercerita atau storytelling.

Selain meningkatkan angka konversi hingga 30 persen, pemasaran B2B juga mengakui bahwa teknik yang satu ini adalah taktik marketing yang sangat efektif.

Mengingat marketer mempercayai kekuatan storytelling, pasti ada sesuatu di dalamnya, kan?

Artikel ini merupakan bagian dari riset tentang kenapa storytelling adalah alat conteng marketing yang luar biasa efektif. Dalam prosesnya, saya juga akan membagikan beberapa cara praktis agar para marketer melibatkan “kisahnya” untuk memperbaiki angka konversi.

Cara Menggunakan Storytelling

Kenapa Storytelling?

Storytelling adalah bagian dari sistem dasar manusia. Sejarah dari storytelling sendiri membantu kita untuk mengetahui bagaimana kita berbagai informasi berharga sejak zaman purba.

Nenek moyang kita sangat cerdas. Mereka tahu bahwa ada kekuatan super dengan menggunakan cerita atau kisah untuk menyampaikan informasi kepada audiens mereka, dan mereka memanfaatkan dengan sebaik-baiknya.

Itu juga menjadi alasan kenapa cerita rakyat cukup populer di berbagai kultur. Dan dalam kitap suci, Tuhan mengilustrasikan sebagian besar firman-Nya menggunakan cerita atau kisah.

Lalu, apa yang membuatnya efektif dan bagaimana cara menggunakan storytelling? Cerita dan kisah membuat orang-orang merasa terkait dengan konten yang kita buat. Kenapa? Karena cerita yang disampaikan dengan baik membuat orang membayangkan sesuatu di kepalanya.

Contohnya, setelah membaca “Aku melihat anjing yang lucu menggoyangkan ekornya dengan gembira” Anda tidak mungkin bisa menghentikan pikiran untuk tidak membayangkannya, kan? Tidak ada unsur hipnotis di dalamnya, karena memang begitulah otak kita bekerja.

Maka, ketika Anda bicara soal produk maupun jasa dan Anda mulai menggambarkan pengalaman melalui sebuah cerita, audiens Anda akan membayangkannya di benak mereka.

Mereka merasakan emosi yang sama dengan ketika mereka menggunakan produk maupun pengalaman ketika menggunakan jasa Anda.

Dan jika mereka bisa membayangkan diri mereka memiliki pengalaman yang oke dari apa yang Anda tawarkan, mereka pasti ingin membeli atau menggunakan jasa Anda.

Baca Juga : Cara Membangun Brand Authority Melalui Konten Marketing

Bagaimana Bisa Storytelling Mempengaruhi Content Marketing?

Apabila storytelling memang sebegitu kuatnya, bayangkan Anda menerapkannya pada konten. Sebagai seorang content marketer, kita akan terus menerus mencari cara untuk mengembangkan konten yang secara efisien menjangkau target audiens dan mendapatkan hasil optimal.

Dan menilai dari statistik yang ditunjukkan di awal, storytelling sepertinya adalah trik yang perlu dicoba.

Chris Haddad adalah studi kasus yang menarik. Ia mampu mencapai angka konversi 400 persen dengan menyampaikan cerita di landing page produk yang ia jual.

Bagaimana ia melakukannya?

Chris memberikan infirmasi produk yang mengajarkan wanita untuk menarik perhatian pasangan yang sempurna.

Awalnya, landing page produknya menuliskan keuntungan membeli produknya. Hal itu memberikan dua persen conversion rate, yang mana bukan hasil yang besar. Oleh karena itu, ia mengubah strateginya.

Daripada hanya menuliskan keuntungan, Chris berbagi cerita tentang bagaimana istrinya (dulu adalah pacarnya) bisa membuatnya tertarik terus menerus. Penyesuaian sederhana tersebut ternyata menghasilkan 8% angka konversi.

Tiga Cara Memasukkan Cerita ke Dalam Konten

Chris hanyalah satu dari beberapa orang yang memanfaatkan trik ini agar conversion rate meningkat.

Sekarang setelah Anda tahu apa yang bisa dihasilkan oleh storytelling pada angka konversi, berikut ini adalah beberapa cara yang bisa Anda lakukan untuk menggunakan trik ini pada konten.

1. Biarkan pembaca membagikan kisahnya

Riset yang dilakukan oleh Nielsen menunjukkan bahwa 92% orang mempercayai rekomendasi dari orang yang mereka kenal, sedangkan 70%  orang tidak masalah mendapatkan rekomendasi dari orang asing. Ini artinya kita cenderung percaya pada apa yang orang bilang tentang produk maupun jasa.

Maka, ketika klien membagikan pengalaman mereka tentang produk, brand, maupun jasa yang Anda tawarkan, efeknya akan cukup besar dalam mempengaruhi keputusan audiens Anda.

Patagonia punya cara yang oke dalam membagikan testimoni customer-nya. Pengguna yang sudah membeli produknya diminta untuk berbagai cerita terkait merk WornWear dan rupanya itu membuat pembaca tersentuh.

2. Klien adalah pahlawan

Tahukah Anda bahwa Anda bisa menggunakan cerita dan membuat target audiens memiliki peran yang lebih menarik dalam menggunakan produk maupun jasa?

Setiap cerita memiliki pahlawan, dan seringkali pahlawan tersebut adalah karakter yang paling dicintai di cerita tersebut. Anda bisa membuat cerita yang menggambarkan cerita customer yang mengatasi masalah dan membuat klien tersebut pahlawan di dalam cerita.

Hal ini tentu saja mengharuskan Anda untuk melepaskan diri dari fokus cerita dan bisnis Anda sendiri. Lalu, pusatkan spotlight kepada calon-calon klien baru. Anda hanya partner yang menemani kesuksesan mereka, bukan seseorang yang menjadi jawaban atas masalah klien. (Meskipun sebenarnya Anda juga yang membantu klien untuk menemukan jawaban tersebut.)

3. Libatkan mereka dalam perjalanan

Gandenglah tangan calon klien Anda dan bawa mereka ke sebuah perjalanan. Ada berbagai perjalanan yang bisa Anda pilih tentunya.

Bisa melalui masalah yang mereka hadapi dan menunjukkan jalan yang tepat untuk mengatasi masalah tersebut.

Ketika mereka sudah mengikuti perjalanan Anda, klien ideal Anda akan mengidentifikasi di mana mereka berada di perjalanan tersebut dan melihat Anda sebagai jembatan yang membawa mereka ke titik saat ini.

Cara lainnya adalah membawa mereka ke sebuah perjalanan melalui cerita Anda. Bagaimana Anda memulai bisnis ini dan bagaimana? Tantangan apa yang Anda hadapi dan bagaimana Anda mengatasi semuanya?

Hal-hal di atas akan memberikan inspirasi tentang arti dan makna yang bisa diasosiasikan dengan brand Anda. Orang-orang lebih tertarik dengan produk maupun jasa yang memiliki value.

Di Mana Anda Meletakkan Cerita pada Konten?

Nah, sekarang Anda sudah mengerti bagaimana memperkenalkan cerita dalam konten Anda. Sebagai bonus, saya akan berikan trik singkat di mana cerita bisa dimasukkan ke dalam konten.

#1 Di pembukaan

Menyelipkan cerita di pembukaan adalah hal yang sangat umum. Ketika Anda mulai membaca, menonton, atau mendengarkan konten, seringkali dimulai dengan cerita. Dalam kasus ini, cerita adalah mata kail yang memancing audiens untuk menikmati konten Anda.

#2 Di penutupan

Setelah menunjukkan berbagai value ke audiens, Anda bisa memutuskan untuk mengakhiri konten dengan sebuah cerita untuk memberikan ilustrasi jelas tentang apa yang Anda bicarakan. Cerita yang Anda letakkan di akhir konten sebaiknya menunjukkan value yang dibagi bisa dibayangkan oleh audiens.

#3 Bagian dari penjelasan

Cara ini bahkan jauh lebih umum daripada dua pilihan sebelumnya. Ketika berbagi fakta penting di konten Anda, Anda juga bisa memberinya konteks dengan sebuah cerita.

Cerita tersebut membantu menjelaskan konsep yang target audiens Anda bisa relate dengan penjelasan tersebut.

Kesimpulan

Storytelling adalah alat yang digunakan selama bertahun-tahun untuk mendidik, menghibur, dan mendorong siapa saja yang tertarik mendengarkan cerita tersebut. Cerita tersebut dibagi dengan orang lain sehingga meningkatkan value.

Sekarang Anda sudah tahu kekuatan storytelling. Anda bisa mulai merasakan efek yang sama ketika Anda membuat cerita untuk konten Anda.

Menurut Brian Eisenberg, “Content marketing yang efektif adalah yang menguasai seni bercerita. Fakta memang penting, tapi cerita mampu menjual.”

Tentu saja, akan diperlukan waktu, usaha, dan dedikasi untuk menguasai hal ini. Namun Anda akan merasakan manfaatnya yang sangat besar.

Demikian ulasan conten.digital mengenai cara menggunakan storytelling untuk meningkatkan hasil content marketing, semoga informasi yang kami sajikan dapat bermanfaat untuk Anda. /Aha

Baca Juga: Strategi Konten di Balik Tiga Pilar Utama Yang Sukses

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *